Selasa, 18 Mei 2010

SKOLIOSIS

SKOLIOSIS


DEFINISI
Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). Sekitar 4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14 tahun mengalami skoliosis; 40-60% diantaranya ditemukan pada anak perempuan
Bertahun-tahun yang lalu, Bapak Ilmu Kedokteran, Hippocrates, menggunakan istilah skoliosis bagi lengkungan tulang belakang dan mencoba mengobati penderitanya dengan alat penopang atau penyangga. Sekarang, orang masih tetap menggunakan istilah skoliosis namun dengan pengertian yang berbeda, yaitu sebagai lengkungan ke samping dalam tulang belakang. Umumnya, tanda-tanda skoliosis yang bisa diperhatikan yaitu tulang bahu yang berbeda, tulang belikat yang menonjol, lengkungan tulang belakang yang nyata, panggul yang miring, perbedaan ruang antara lengan dan tubuh.
Istilah skoliosis kini bermakna sebagai lengkungan ke samping dalam tulang belakang. Hal ini untuk membedakan bentuk lengkungan tulang belakang yang memang ke arah depan dan belakang. Cara pengobatannya pun kini lebih bervariasi. Dalam tingkat yang masih ringan, skoliosis seringkali tidak menimbulkan masalah, namun bila lengkungan ke samping itu terlalu parah, akan menyebabkan cacat bentuk tulang belakang yang cukup berat dan bisa mengganggu fungsi tubuh lainnya seperti jantung dan paru-paru.
Pada skoliosis, pembengkakan terjadi karena berbagai sebab. Misalnya, karena sikap tubuh salah yang terus menerus pada saat bekerja. Atau bisa seseorang berjalan miring demi mencegah rasa sakit. Misalnya, sebagai akibat kelumpuhan atau luka karena kecelakaan.
Kelainan bentuk samping tulang belakang pada skoliosis disebabkan oleh gangguan pada tulang kaki, pinggul atau tulang belakang. Bisa juga akibat penyakit tulang tertentu seperti rachitis. Kelumpuhan atau rasa sakit pada beberapa otot tulang belakang akan mempengaruhi letak kedudukannya. Tapi, beberapa orang yang bahunya miring belum tentu karena skoliosis, melainkan sekadar kebiasaan saja.
Secara umum, skoliosis dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu reversibel (dapat kembali) dan nonreversibel (tak dapat kembali). Skoliosis reversibel bisa disebabkan oleh sikap tubuh yang buruk, rasa sakit dan kejang otot di sekitar saraf tulang belakang, rasa sakit akibat peradangan dan kanker tulang belakang. Infeksi saluran pencernaan seperti usus buntu atau infeksi di sekitar ginjal juga dapat menimbulkan skoliosis reversibel. Penyebab lainnya adalah panjang tungkai yang berbeda.
Dari seluruh kasus skoliosis, 85% di antaranya berupa nonreversibel yang penyebabnya tidak dapat dideteksi. Jenis ini terbagi lagi dalam tiga kelompok yaitu jenis infantil yang muncul pada bayi sejak lahir hingga usia 3 tahun, jenis juvenil pada anak usia 4-9 tahun, dan jenis adolesen pada remaja usia 10 tahun hingga akhir masa pertumbuhan.
Skoliosis yang disebabkan oleh kelainan bentuk tulang bisa bersifat bawaan, misalnya bentuk tulang belakang yang tidak normal atau bisa juga merupakan bentuk yang didapat, misalnya karena patah atau bergesernya tulang belakang. Selain itu, skoliosis juga bisa disebabkan oleh kekurangan mineral atau kelainan pada dada.





ETIOLOGI
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut:
- Cerebral palsy
- Distrofi otot
- Polio
- Osteoporosis juvenil
3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

GEJALA
Gejalanya berupa:
1. tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
2. bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
3. nyeri punggung
4. kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
5. skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60°) bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri.

PATOFISIOLOGI
Masalah pada saraf juga dapat menyebabkan timbulnya skoliosis. Misalnya, karena pembentukan urat saraf tulang belakang yang tidak normal dan terdapat benjolan di sepanjang perjalanan saraf. Penyebab lain misalnya penyakit saraf yang didapat seperti poliomielitis dan paraplegia -- kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh termasuk kedua tungkai bawah. Skoliosis kadang-kadang juga disebabkan pembentukan otot yang tidak normal.
Semua jenis skoliosis nonreversibel bisa berakibat serius bila tidak diperhatikan. Untuk itu, diperlukan perawatan khusus oleh dokter ahli bedah tulang.

MANIFESTASI KLINIS
Yang terpenting untuk diperhatikan mengenai skoliosis adalah bahwa keluhan tersebut akan semakin berat seiring dengan berjalannya pertumbuhan tulang. Makin besar tulang belakang melengkung menyebabkan gangguan pertumbuhan pada tulang rusuk maupun tulang belakang. Ketidaklurusan tulang belakang ini akhirnya akan menyebabkan nyeri persendian di daerah tulang belakang pada usia dewasa dan kelainan bentuk dada yang dapat mengganggu fungsi jantung dan paru-paru, sehingga mempercepat kematian.
Skoliosis dengan penyebab yang tidak diketahui timbul secara perlahan-lahan tanpa adanya rasa sakit. Jika terdapat rasa sakit pada remaja yang sedang mengalami perkembangan skoliosis, segeralah memeriksakannya ke dokter untuk mengidentifikasi penyebabnya. Pada tahap perkembangan dini, skoliosis terlihat berupa perubahan kecil pada penampakan jasmani. Misalnya, Anda bisa mengamati salah satu bahu yang tampak lebih tinggi atau tulang belikat yang satu tampak lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain.
Umumnya, tanda-tanda skoliosis yang bisa diperhatikan yaitu tulang bahu yang berbeda, tulang belikat yang menonjol, lengkungan tulang belakang yang nyata, panggul yang miring, perbedaan ruang antara lengan dan tubuh. Pemeriksaan lain yang sangat membantu dalam menangani skoliosis ini adalah foto rontgen tulang belakang. Dari foto rontgen dapat diukur derajat banyaknya lengkungan yang tidak normal.
Selama itu, salah satu cara terbaru untuk mengawasi perkembangan skoliosis adalah dengan topografi Moire, yaitu suatu pemotretan khusus yang memungkinkan pengamatan tentang perbedaan pada permukaan tubuh tanpa menimbulkan risiko.
Cacat bentuk pada skoliosis bertambah sesuai dengan pertumbuhan badan. Karenanya, faktor terpenting dalam menilai kemungkinan hasil akhir skoliosis adalah jumlah pertumbuhan yang tersisa. Makin berat lengkungan, besar kemungkinan untuk bertambah parah. Hal ini berarti bahwa lengkungan ringan yang dijumpai pada seorang anak perempuan berusia 14 tahun mungkin tak akan banyak bertambah, sedangkan derajat kelengkungan sama yang dijumpai pada seorang anak perempuan berusia 10 tahun hampir pasti akan meningkat, terutama pada periode pertumbuhan.
Lengkungan skoliosis antara 20-40% pada anak yang belum dewasa merupakan indikasi perlunya pengobatan dengan alat penopang. Namun, bila kurang dari 20%, sepertinya belum perlu pengobatan khusus. Lengkungan di daerah dada yang besarnya lebih dari 60% lambat sembuh, karena fungsi jantung dan paru-paru terganggu. Karena itu, pada lengkungan besar diperlukan pengobatan dengan jalan operasi.
Pengobatan lainnya yang dilakukan tanpa operasi antara lain latihan jasmani yang dirancang khusus untuk mencegah terjadinya kelainan yang lebih berat. Hasilnya akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan pemakaian semacam alat penopang. Alat penopang memberi antara tarikan dan penekanan samping pada lengkungan tulang belakang. Walaupun cara ini tidak memperbaiki lengkungan yang ada, tapi pada banyak kasus dapat mencegah kerusakan lebih lanjut selama masa pertumbuhan anak.
Perawatan dan penanganan skoliosis memerlukan pengawasan dan pengobatan dalam bentuk yang cukup lama, menemukan kelainan secara dini dan mengobatinya dengan segera akan mencegah berlanjutnya cacat bentuk akibat scoliosis
KENALI DAMPAK & CIRI
Skoliosis memang tidak menimbulkan rasa nyeri, namun dapat mengganggu rasa percaya diri anak. Yang pasti, skoliosis berbahaya bila terjadi dimasa pertumbuhan tulang. Pasalnya, selain akan semakin progresif, juga berpengaruh pada postur tubuh. Seperti jalan pincang karena pinggul tinggi sebelah. Atau bisa juga tubuhnya jadi membungkuk ke depan.
Disamping dapat juga menimbulkan gangguan sistem kardiovaskuler/jantung dan pernapasan. Bengkoknya tulang belakang juga bisa mengakibatkan volume paru-paru ataupun rongga dada jadi berkurang mengingat sebagian tulang bengkoknya mengambil ruang/tempat paru-paru. Gejalanya berupa sesak napas, karena kemampuan paru-paru menurun.
BISA DIKOREKSI
Pada dasarnya, semakin ringan derajat skoliosis (terutama yang bukan disebabkan oleh kelainan pembentukan tulang belakang), semakin terbuka pula kemungkinan untuk dilakukan koreksi. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk menentukan tingkat keberhasilan koreksi.
Sementara berhasil tidaknya tindakan koreksi sangat bergantung pada parah tidaknya sudut skoliosis yang terbentuk dan disiplin anak untuk mengikuti program terapi. Pada skoliosis ringan cukup diberikan latihan untuk mengoreksi postur dan melakukan senam khusus untuk penderita skoliosis yang harus dilakukan setiap hari. Gerakan latihan terutama ditujukan pada wilayah sekitar bahu, punggung hingga ke tulang panggul.
Sedangkan untuk skoliosis sedang perlu dilakukan bracing. Yakni pemasangan alat khusus belakang yang terbuat dari fiber atau stainless steel guna mengoreksi tulang. Alat yang harus dipakai selama 22 jam sehari ini berfungsi menyangga tubuh dengan harapan mampu mencegah dan menahan tulang belakang agar tak semakin bertambah bengkok.
Sedangkan mengenai panjangnya brace, tergantung wilayah yang hendak dikoreksi. Bila pada wilayah toraks maka brace digunakan dari atas leher. Sedangkan jika koreksinya dari toraks sampai lumbal, maka brace dipasang dari daerah atas kemaluan atau dekat tulang panggul sampai dada. Pamakaian brace ini biasanya berlangsung hingga pertumbuhan tulang terhenti atau kira-kira pada usia 17¬18 tahun. Memang, Pada si pemakai, penggunaan alat ini umumnya menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama saat beraktivitas. Namun, inilah cara terbaik untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Peluang kesembuhan amat tergantung pada kedisiplinan yang bersangkutan mengenakan brace. Selain biasanya perlu ditunjang pula dengan melakukan senam khusus demi mendukung keberhasilan tindakan koreksi. Senam skoliosis ini diharapkan dapat menguatkan otot-otot punggung dan pinggang. Khusus untuk skoliosis yang kebengkokannya mencapai lebih dari 40 derajat, dianjurkan untuk menjalani operasi oleh dokter bedah tulang. Tujuannya agar tulang belakang dapat stabil dan skoliosis tidak bertambah berat.

MANIFESTASI KLINIS
Ada beberapa ciri yang patut dicermati, berikut beberapa di antaranya:
* Riwayat skoliosis dalam keluarga.
* Nyeri pada pinggang/punggung anak.
* Adanya tanda berupa bercak-bercak cokelat pada kulit.
* Pundak tidak sama tinggi.
* Pinggul tidak sama tinggi.
* Tulang belikat menonjol sebelah.
* Jarak antara lengan dan pinggang kanan maupun kiri tidak sama.

KOMPLIKASI
Kerusakan paru-paru dan jantung. Ini terjadi jika tulang belakang membengkok melebihi 70 derajat. Tulang rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan pasien sulit bernafas dan cepat lelah. Jantung juga akan mengalami kesulitan dalam memompa darah. Dalam keadaan ini, pasien lebih rentan terhadap penyakit paru-paru dan pneumonia.
1. Sakit tulang belakang. Semua pasien, baik dewasa maupun kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami masalah sakit belakang kronik. Jika tidak ditangani, pasien mungkin bisa merasa sakit pada sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila pasien berumur 50 atau 60 tahun.
2. Masalah imege. Biasanya pasien berasa rendah diri, malu dan kurang percaya diri untuk berhadapan dengan orang lain kerana badan mereka tidak seimbang, tinggi atau pendek sebelah.
3. Kemurungan. Ini merupakan masalah psikologi yang paling dikhawatirkan tenaga kesehatan. Pasien akan lebih mudah mengalami kemurungan dan rasa sedih
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan sehingga pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi.
Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
• Rontgen tulang belakang
• Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang)
• MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).

PENGOBATAN
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20°, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, etapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan.
Pada anak-anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30°, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti.
Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler. Jika kelengkungan mencapai 40° atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan.
Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih.
Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang.
Pengobatan lainnya yang dilakukan tanpa operasi antara lain latihan jasmani yang dirancang khusus untuk mencegah terjadinya kelainan yang lebih berat. Hasilnya akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan pemakaian semacam alat penopang. Alat penopang memberi antara tarikan dan penekanan samping pada lengkungan tulang belakang. Walaupun cara ini tidak memperbaiki lengkungan yang ada, tapi pada banyak kasus dapat mencegah kerusakan lebih lanjut selama masa pertumbuhan anak.
Perawatan dan penanganan skoliosis memerlukan pengawasan dan pengobatan dalam bentuk yang cukup lama, menemukan kelainan secara dini dan mengobatinya dengan segera akan mencegah berlanjutnya cacat bentuk akibat skoliosis

PENGKAJIAN SKOLIOSIS
1. Fungsi Motorik Kasar
a. Ukuran otot, adanya atrofi atau hipertrofi otot, kesimetrisan massa otot
b. Tonus otot, spastisitas, flaksiditas, rentang gerak terbatas
c. Kekuatan
d. Gerakan abnormal, tremor, distonia, atetosis
2. Fungsi motorik halus
a. Manipulasi mainan
b. Menggambar
3. Gaya berjalan, ayunan lengan dan kaki, gaya tumit jari.
4. Kontrol postur
a. Mempertahankan posisi tegak
b. Adanya ataksia
c. Bergoyang-goyang
5. Persendian
a. Rentang gerak
b. Kontraktur
c. Merah, edema, rasa sakit
d. Tonjolan abnormal
6. Tulang belakang
a. Lengkung tulang belakang
b. Adanya lesung pilokondial
7. Pinggul
a. Abduksi
b. Rotasi internal

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurang perawatan
2. Resiko tinggi cidera
3. Resiko tinggi kerusakan mobilitas fisik
4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas
5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan
6. Nyeri
7. Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif
8. Resiko tinggi gangguan citra diri

INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawatan Prabedah
1. Siapkan anak dan keluarga sebelum pelaksanaan prosedur untuk rangkai kejadian dan sensasi yang akan dialaminya.
a. Hitung darah lengkap (HDL) untuk mengkaji adanya anemia
b. Kimia darah untuk mengkaji adanya ketidakseimbangan elektrolit
c. Pemeriksaan koagulasi
d. Pemeriksaan tengkorak dengan sinar X
e. Uji fungsi pulmoner untuk mengkaji adanya komplikasi pulmoner
f. Nilai gas darah arteri untuk mengkaji adanya komplikasi pulmoner
g. Mielografi untuk mengesampingkan kemungkinan abnormalitas genitourinaria dan neurologis
h. Pemeriksaan spinal dengan sinar X untuk mengkaji kurvatura spinal
2. Siapkan anak untuk pembedahan
3. Orientasikan anak pada unit perawatan intensif dan prosedur-prosedur pengobatan yang digunakan pada masa pasca bedah
Perawatan Pascabedah
1. Pantau adanya tanda-tanda dan gejala komplikasi potensial
a. Pantau jalur arteri
b. Pantau suhu, pernapasan, tekanan darah, dan nadi setiap 1 sampai 2 jam sampai stabil, kemudian setiap 4 jam.
c. Auskultasi bunyi napas, laporkan adanya perubahan dalam status pernapasan (peningkatan respirasi, peningkatan kongesti, perubahan warna, nyeri dada, dispnea)
d. Pantau adanya trauma saraf spinalis, observasi ekstremitas bawah untuk kehangatan, sensasi, gerakan, nadi, dan nyeri.
e. Pantau adanya ileus paralitik
f. Pantau balutan untuk keutuhan dan tanda-tanda komplikasi.
- Perhatikan adanya perdarahan sepanjang daerah insisi
- Pantau adanya tanda-tanda infeksi
2. Tingkatkan kesejajaran tubuh yang benar
a. Miringkan anak setiap 2 jam (hanya boleh dilakukan log roll)
b. Pantau adanya area yang memerah atau tertekan
c. Jaga agar anak tetap berbaring datar di tempat tidur sampai dokter instruksikan untuk beraktifitas (berbaring datar dengan hanya dilakukan log roll, sampai jaket tubuh tiba (anak tidak selalu diberi balok Harrington karena anak akan dapat turun dari tempat tidur 2 sampai 4 hari setelah pembedahan)
d. Lakukan latihan rentang gerak pasif pada hari kedua pascabedah
3. Tingkatkan ventilasi pulmoner
a. Pantau tanda-tanda vital setiap 2 jam
b. Minta anak untuk batuk, miring, dan menarik napas dalam setiap 2 jam
c. Gunakan spirometer insentif setiap 2 jam
d. Pantau status pernapasan setiap 2 jam sampai stabil, baru kemudian setiap 4 jam.
4. Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Pantau dan catat asupan dan keluaran cairan intravena, urin, drainase nasogastrik
b. Pantau bisisng usus
c. Pantau adanya tanda-tanda dan gejala dehidrasi dan kelebihan cairan (dehidrasi penurunan keluaran urun, peningkatan berat jenis, kulit liat, membran mukosa kering, kelebihan cairan, peningkatan nadi apikal, peningkatan frekuensi napas, kongesti pulmonal, dispnea, edema (awalnya terjadi pada ekstremitas)

3 komentar:

  1. Asslm wr wb

    Perkenalkan nama saya Muhamad Rahman. saya ingin berbagi dengan sahabat - sahabat ku yang terkena scoliosis yang berada di jakarta dan sekitarnya. Saya akan mengadakan Seminar dan terapi Gratis scoliosis.

    Seminar dan terapi Scoliosis GRATIS, terbatas hanya untuk 20 pendaftar.
    Lamanya seminar dan terapi ini 3 (tiga) jam. Materi dari Seminar, akan di jelaskan mengenai teknik apa saja yang bisa membantu
    penderita scoliosis berikut efek samping, lamanya terapi dan biaya yang di butuhkan. Segera daftar karena hanya terbatas 20 pendaftar pertama. Pendaftaran akan di tutup bila sudah memenuhi Quota. Apabila ternyata permintaan banyak, saya dapat membuka sesi berikut nya.

    Lokasi : Jl. Cipinang Jaya JJ No 4 RT 002/RW 007 Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta 13410
    Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Juli 2010
    Mulai 08.00 - 12.00
    informasi Hubungi : 021 70225931
    untuk Pendaftaran hub: 0817826143, 085210360334 (SMS only) (format : nama spasi umur spasi jumlah yang datang)

    Percayalah setiap penyakit itu pasti ada obat nya. Jadi sahabat - sahabat ku jangan menyerah (sesuai dengan judul lagu D'masiv)

    semoga saya bisa menjadi jalan kesembuhan bagi sahabat semua nya

    terima kasih

    Walaikum salam wr wb

    BalasHapus
  2. thx infonya mba.anakku ce 13 thn skoliosis.baru tau sebulan ini.curve miring 38 derjat k kanan.krn di kota sy blm ada terapi or senam kusus utk skoliosis, jd sy searching di web mengenai hal tsb. mhn sharing, jika ada gmbr/video khusus bwt senam skoliosis.
    thanks ya mba..salam

    BalasHapus
  3. kira2 bgaimna dengan efek dari skoliosis itu sendiri terhadap kejiwaan si penderita ya? Apakah dia merasa malu ataukah tidak?

    BalasHapus